Latest Post

doctorswithoutborders.org
Médecins Sans Frontières (MSF), atau yang lebih dikenal sebagai Doctor Without Borders (Dokter Lintas Batas) adalah organisasi kemanusiaan medis internasional independen yang memberikan bantuan darurat medis kepada warga dunia yang membutuhkan.

Fokus utamanya adalah korban konflik bersenjata, epidemi penyakit, bencana alam, serta masyarakat lain yang tidak memiliki akses layanan kesehatan.

Organisasi ini didirikan tahun 1971 di Perancis oleh 13 orang Dokter dan Jurnalis, pasca perang dan kelaparan di Biafra.

Mereka ingin memberikan bantuan kepada siapapun tanpa memandang ras, agama, gender atau pandangan politik.

Salah satu misi pertama MSF adalah ke ibu kota Nikaragua, Managua, pada tahun 1972. Gempa menghancurkan sebagian besar kota dan membunuh sekitar 10.000 - 30.000 orang.

Tahun 1974, MSF membentuk sebuah misi bantuan untuk rakyat Honduras setelah Badai Fifi menyebabkan banjir besar dan membunuh ribuan orang.

Pada 1975, MSF mendirikan program medis berskala besar bagi krisis pengungsi, memberikan perawatan medis bagi warga Kamboja yang mencari perlindungan dari penindasan diktator komunis Pol Pot.

Dari ketiga misi ini, mereka mengevaluasi kekurangan yang dimiliki organisasi, diantaranya:

Kurang persiapan, dokter tidak mendapat dukungan, dan rantai suplai kebutuhan medis tersendat.

Kini, MSF telah memiliki 24 cabang asosiasi di seluruh dunia. MSF Internasional menjadi induk dari semua organisasi dan berbasis di Jenewa, Swiss.

Program MSF dijalankan di hampir 70 negara di seluruh dunia. MSF didukung ribuan tenaga kesehatan profesional, staf administrasi dan logistik, hingga teknisi air dan sanitasi.

Relawan biasanya diambil dari negara tempat MSF beroperasi. Tahun 2015, jumlah relawan mencapai 30.000 personel.

MSF mempertahankan statusnya sebagai organisasi kemanusiaan yang independen serta tidak di bawah intervensi siapapun.

Prinsip-prinsip ini membuat MSF bisa berbicara bebas terkait brutalnya perang, korupsi, atau rintangan lainnya terhadap upaya layanan medis atau peningkatan kesejahteraan manusia.

Hanya sekali dalam sejarahnya organisasi ini meminta intervensi militer, yaitu dalam genosida Rwanda tahun 1994.

Di tahun 1999, MSF mendapat penghargaan Nobel Perdamaian.

Dalam konflik Suriah, MSF merupakan salah satu lembaga medis paling "nekat", para dokter ditugaskan di rumah sakit lapangan garis paling depan, dimana korban manusia paling banyak berjatuhan.

Kota Aleppo timur misalnya, RS mereka merasakan langsung gempuran brutal pesawat Rusia atau rezim Assad ketika wilayah itu dikuasai oposisi Sunni.

RS al-Quds dibom pada Rabu malam (28/4/2016), ketika penuh pasien. Serangan juga membunuh dokter anak terakhir di Aleppo timur saat itu.

Dr. Wassim gugur bersama sejumlah staf medis lainnya, serta puluhan pasien yang mereka rawat.

Meski MSF tidak menyebut pelaku serangan ke RS itu, aktivis lokal menyatakan jenis pemboman biasa dilakukan oleh rezim Assad, yaitu adanya laporan bom barrel atau drum yang dijatuhkan.

Selain di Aleppo, RS-RS mitra MSF tersebar di sekitar provinsi Idlib dan Hama. Pelayanannya mencakup ratusan ribu warga sipil.

Dahulu, kelompok ini bahkan berani ambil risiko tetap bekerja di daerah yang diduduki kelompok militan ISIS.

Pertengahan 2013, militan mulai membanjiri Suriah dari arah Irak, termasuk di area kerja MSF. Perjanjian dilakukan agar mereka tak mengintervensi kerja tim medis.

Namun, 2 Januari 2014, sekelompok staf medis diculik. Hal inilah yang membuat MSF mulai menarik diri dari wilayah militan.

Lain lagi di Afghanistan, RS MSF di Kunduz dibom oleh pesawat tempur AS pada Oktober 2015.

Puluhan staf dan pasien meninggal seketika akibat serangan yang diakui sebagai "salah target" itu.

Sumber: MSF, Reuters

Ilustrasi migran di Afrika utara(AlJazeera)
Lebih dari 30 migran tewas tenggelam pada Rabu (24/5) di lepas pantai Libya.

Sekitar 200 orang terjun dari kapal tanpa jaket pelampung sebelum berhasil dipindahkan ke kapal penyelamat yang menunggu.

Tim penyelamat MOAS mengatakan, pihaknya telah menemukan 34 mayat dari perairan.

"Sebagian besar balita", ujar co-founder Chris Catrambone di media sosial Twitter.

Perahu migran diperkirakan bocor akibat cuaca buruk, serta para penumpang tiba-tiba berkerumun di satu sisi.

Akibatnya, setengah dari 500 orang jatuh ke dalam air, menurut penjaga pantai itu.

Sekitar 1.800 orang lainnya berhasil diselamatkan dari empat perahu karet dan enam kapal kayu.

MOAS bersama penjaga pantai dan AL Italia melakukan penyelamatan dengan bantuan kapal AL Inggris serta Spanyol, kelompok kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF), tiga kapal dagang, serta sebuah kapal tunda.

Lebih dari 1.300 orang meninggal tahun ini saat berusaha melarikan diri dengan menyeberangi laut Mediterania.

Mereka ingin lari dari kemiskinan dan perang tak berkesudahan di Afrika maupun Timur Tengah.

Jum'at lalu, lebih dari 150 orang hilang di laut, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Selasa (23/5),

Dalam seminggu terakhir, lebih dari 7.000 migran berhasil diselamatkan dari kapal-kapal di area perairan internasional lepas pantai barat Libya.

Italia dan Uni Eropa telah berupaya melatih dan melengkapi pemerintah Libya dukungan PBB di Tripoli.

Penjaga pantai juga dilatih untuk memerangi pelaku perdagangan manusia. Namun para migran terus menantang maut.

Namun masalah turut terjadi antara penjaga pantai Libya dan kelompok bantuan kemanusiaan.

Menurut MSF dan SOS Mediteranee, para pejabat dari otoritas Tripoli ikut naik ke kapal migran saat melakukan penyelamatan, lalu justru merampok mereka, serta melepaskan tembakan ke udara.

Lebih dari 60 orang jatuh ke perairan dalam akibat kepanikan itu, namun tidak ada korban tewas karena menggunakan jaket pelampung .

"Otoritas Italia dan Eropa seharusnya tidak memberikan dukungan kepada penjaga pantai Libya", ujar perwakilan MSF Annemarie Loof.

"Dukungan ini semakin membahayakan nyawa orang", kritiknya.

Tahun ini, sudah lebih dari 50.000 migran yang diselamatkan dari laut dan dibawa ke Italia. Jumlah ini meningkat 46 persen pada periode yang sama tahun lalu, menurut Kementerian Dalam Negeri.

Sebagian besar penyelundupan berlangsung dalam jarak 12 mil dari wilayah Libya menuju perairan internasional. (Reuters)

Ismail Ould Cheikh Ahmed
Turki mengecam serangan Syi'ah Houthi terhadap konvoi utusan PBB Ismail Ould Cheikh Ahmed di ibu kota Yaman, Sana'a, Senin (22/5).

Konvoi diserang saat meninggalkan bandara Sana'a untuk melakukan pembicaraan mengenai konflik negara itu.

"Kami mengecam serangan terhadap konvoi Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, pada 22 Mei 2017 di Sana'a, ibu kota Republik Yaman", ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

"Dalam kesempatan ini, kami menegaskan dukungan terhadap upaya solusi politik dari krisis Yaman," tambhanya.

Pemerintah Yaman menganggap serangan pada utusan PBB itu sebagai "upaya pembunuhan".

Menurut pejabat PBB, lebih dari 10.000 warga Yaman terbunuh akibat perang, sementara lebih dari 11 persen jumlah penduduk negara terpaksa mengungsi.

Jutaan warga lainnya terancam masalah kebutuhan dasar.

Houthi disalahkan atas sejumlah masalah kemanusiaan di wilayahnya, seperti penyelewengan bantuan, penggunaan pelabuhan untuk penyelundupan senjata dan kemudahan akses.

Beberapa waktu lalu, Houthi menahan sejumlah pekerja kemanusiaan dari International Medical Corps (IMC) dengan tuduhan "mata-mata".

IMC mengancam akan menghentikan bantuan di semua wilayah Houthi jika 7 pekerjanya tidak dilepas.

Tekanan ini mendorong Houthi membebaskan mereka. (Anadolu Agency)

Mendiang Peter 'Abdul Rahman' Kassig
Peter Kassig menjadi salah satu korban ekseskusi paling dramatis dalam video propaganda kelompok Khawarij ISIS.

Peter merupakan tentara Amerika di Irak sejak 2007. Ia pergi ke Suriah di tahun 2013 untuk menjadi pekerja relawan kemanusiaan.

Namun, Oktober tahun itu, Peter ditangkap oleh militan ISIS ketika tengah menjalankan aksi kemanusiaan di wilayah Deir Zour.

Setelah ditangkap, ia memutuskan menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Abdul Rahman.

Lewat sebuah video pada Oktober 2014, orang tuanya memohon pembebasan Peter pada ISIS.

Mereka juga menekankan, masuknya sang putra ke dalam agama Islam tidak dipaksa oleh siapapun.

Detik-detik jelang eksekusi 'Abdul Rahman', penuh dengan ketegangan. Mencoba sedikit harapan untuk membebaskannya dari militan.

ISIS memang telah memasukkannya ke dalam daftar jagal saat eksekusi Alan Henning yang dituduh sebagai mata-mata.

Sayangnya, ISIS memberikan tuntutan berat agar bisa ditukar dengan nyawa Peter, bahwa pemerintah AS harus menghentikan operasi kontra-ISIS.

Harapan akhirnya pupus, video berita kematiannya tersebar di YouTube dan akun media sosial afiliasi ISIS.

Seorang militan berpakaian hitam yang diyakini sebagai "Jihadi John", jagal ISIS asal Inggris, muncul bersama sebuah kepala terpenggal.

Ia membacakan pidato yang ditujukan kepada Presiden Barack Obama, dengan menyebut bahwa kepala itu:

"Peter Edward Kassig, seorang warga negara AS, yang berperang melawan Muslim di Irak saat bertugas sebagai tentara Amerika"

Militan memang melakukan dakwaan aneh untuk membunuh Peter, meski telah jadi mualaf, ia dikriminalisasi dengan alasan "di masa lalu memerangi Muslim".

Video Kassig berbeda dengan propaganda ISIS sebelumnya saat eksekusi wartawan AS, James Foley dan Steven Sotloff, serta pekerja kemanusiaan Inggris David Haines dan Alan Henning.

Eksekusi mereka diperlihatkan langsung. Sementara Kassig tidak muncul di kamera saat detik-detik masih hidup. Video juga tidak memuat ancaman penjagalan pada sandera berikutnya.

Terdapat dugaan ia sebenarnya terbunuh akibat tembakan. Seorang ahli anatomi wajah menganalisis video Kassig. Menurutnya, terdapat luka mirip memar di atas alis Kassig, yang diduga sebagai luka tembak.

Kematian Peter 'Abdul Rahman' Kassig menimbulkan kecaman kelompok pejuang Suriah dan aktivis kemanusiaan Muslim, yang menegaskan ISIS sebagai kelompok Khawarij yang menumpahkan darah seorang Muslim lewat alasan dibuat-buat.




Rachel Corrie (23), aktivis perdamaian dari Amerika ini meninggal tergilas oleh buldoser tentara Israel pada 2003 lalu.

Saat itu, Ia dan dua relawan Gerakan Solidaritas Internasional pro-Palestina (ISM) dipanggil dari Rafah, Tel Sultan, untuk membantu 5 aktivis mencegah pembongkaran rumah warga Palestina. Mereka berjaga di pinggiran Hai Salaam, dekat perbatasan dengan Mesir.

Richard Purssell, rekan Corrie dari ISM, telah memberikan kesaksian mengenai kejadian hari itu pada Pengadilan Israel, tahun 2010 lalu.

Orang tua Corrie juga hadir mendengar laporan mengerikan itu. Israel tidak pernah mengakui kesalahan atas kematian Corrie.

Menurut Purssell, Corrie terseret sejauh empat meter oleh buldoser yang bergerak maju dengan kecepatan tinggi, tergilas oleh mesin Caterpillar seberat 56 ton.

Sebelumnya, Corrie naik ke gundukan tanah yang dibuat di depan buldoser agar dapat terlihat ke dalam kabin pengemudi.

"Bulldoser terus bergerak maju. Rachel berbalik untuk menuruni lereng"

Namun, saat dia mendekati bagian bawah, sesuatu terjadi dan dia jatuh ke depan. Buldoser terus bergerak maju dan Rachel menghilang…” ujar Pursell.

Sebelum buldoser berhenti, para aktivis lainnya mulai berlari ke arah Corrie.

"Saya mendengar banyak orang berteriak dan memberi isyarat ke buldoser untuk berhenti," katanya kepada pengadilan.

Tiga aktivis ISM; Alice Coy, Greg Shnabel, dan Will Hewitt, bergegas meminta pertolongan pertama.

"Mereka mulai memeriksa lehernya … memeluknya. Dia masih bernapas. Saya tidak ikut menolong karena bukan petugas terlatih." Corrie meninggal tak lama setelah itu.

Insiden terjadi sekitar 20 meter dari rumah Dr Samir Nasrallah, seorang apoteker yang dikenal baik oleh aktivis ISM. Purssell berspekulasi bahwa Corrie naik ke gundukan karena tidak ingin buldoser mendekati rumah Dr. Samir.

Orangtua Corrie, Craig dan Cindy dari Olympia, negara bagian Washington, telah berusaha menantang catatan militer tentang kematian anak perempuan mereka. Israel mengklaim bahwa pasukannya tidak boleh disalahkan.

Menurut laporan, supir buldoser tidak melihat Corrie maupun menjalankannya dengan sengaja.

Beberapa minggu setelah kematiannya, Pasukan Pertahanan Israel menuduh Corrie dan ISM telah melakukan “perilaku yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya”.

Tahun 2004, Lawrence Wilkerson dari Kemenlu AS, mengatakan Israel gagal melaksanakan penyelidikan “secara menyeluruh, kredibel, dan transparan”.

Ayah Corrie terus mencari keadilan selama ini, sementara ibunya terus menunggu adanya penyelidikan terbuka.


Golden Future Foundation



Konflik yang telah berlangsung lama antara pemerintah dan oposisi, diumumkan di beberapa wilayah di Sudan Selatan menyebabkan sipil menderita kelaparan. Bahkan daerah di luar zona kelaparan juga ikut menderita kekurangan makanan. Lebih dari satu juta orang di negara ini berada di ambang kelaparan. Beberapa dari mereka mencoba melarikan diri ke negara tetangga Sudan untuk mendapatkan bantuan. Laporan Hiba Morgan Al Jazeera melaporkan dari Aweil, Sudan Selatan.

Pria Palestina Terluka Setelah Di Tembak Tentara Israel
Ribuan masyrakat Palestina melakukan solidaritas pada hari Jumat (19/5) di jalan-jalan Tepi Barat (West Bank) dan jalur Gaza atas kelaparannya 1600 muslimin yang berada di penjara Israel .

Beberapa saat kemudian Israel menyerang orang palestina yang ikut dalam aksi tersebut sehingga tercatat 164 orang terkena luka tembakan peluru logam dan Karet, 7 diantaranya mengalami luka kritis.

Saksi mata mengatakan bahwa pasukan tentara israel menghadapi demonstran tersebut dengan kekerasan, selain melepaskan tembakan, tentara-tentara Israel juga melakukan serangan gas air mata kehadapan Demonstran. 

Laporan lainnya mengatakan bahwa pasukan tentara Israel juga melakukan penyerangan gas air mata ke dalam rumah-rumah warga yang berada diseputaran Tepi Barat dan Jalur Gaza. (DaysOfPalestine)

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.